Rabu, 03 Desember 2014

Pak Setengah Tiga


Aku dan Leonardo di Kaprikarno


Seingatku, pertama kali datang ke Kukusan itu sekitar tahun 1999 bulan Mei. Di kosan RPT dekat kuburan ada 3 orang yang menempati. Pertama, Ranov. Kedua, Goetche. Ketiga, orang yang membawaku ke sana, alias Leonardo di Kaprikarno. Kosan ini cukup angker pada zaman itu, kalau habis Maghrib, suara pintu bergerak dan menimbulkan bunyi berderit bikin merinding bulu kuduk. Bahkan kalo mo pipis ke kamar mandi di luar, aku suka buru-buru dan nggak berani menatap ke arah kuburan. Pokoknya menyeramkan-lah zaman itu, kalo kata anak-anak situ, kosan RPT Kuburan memang sering bikin mereka ketemu sama yang aneh-aneh.

Tapi sekian lama tinggal di kuburan justru bikin aku terbiasa dengan habitat di sana. Bahkan saat musim cempedak tiba, semua kengerian akan angkernya kuburan sirna sudah. Bayangkan, tengah malam kami semua keluar kos saat mendengar “gedebuk” suara cempedak jatuh. Bawa senter, cari sana-sini, udah nggak ngefek lagi di samping kami adalah kuburan. Yang penting, makan cempedak.

Cara lain bertahan hidup adalah merebus dan menggoreng biji cempedak, biasanya yang bertugas menggoreng adalah Leonardo. Sayangnya itu biji udah keburu dicomot pas udah mateng, Leonardo sewot karena dia aja belum nyicip, yang laen udah maen sikat aja. Alhasil biji cempedak yang baru mateng diludah-ludahin sama Leonardo, biar nggak dicomot sama yang laen.






Senin, 01 Desember 2014

Wuru Wuru


Facebook


Terkadang kita nggak tau, akan kemana arah hidup ini? Kadang juga kita bingung, kenapa hidup kita nggak seperti yang kita bayangkan dulu. Tapi lucu juga kalo kita tanyakan ke orang lain yang melihat kita, mereka malah bilang...

“Bukannya lo udah mencapai apa yang lo inginkan dulu?”

Kalo udah begini jadi mikir, deh. Terus gimana? Apa yang salah, kok yang kita rasakan beda dengan yang kita impikan (dulu)?

Suatu hari di Tahun 2009 aku bertemu dengan seseorang yang cukup dekat di Tahun 2000. Dia adalah seorang guru SMA yang banyak memberi masukan di kala aku masih single. Dia heran, kenapa aku mengeluh seperti ada yang kurang di dalam hidup ini.

Setelah melewati pergulatan diri, aku baru sadar, itu terjadi lantaran rasa jenuh dalam menjalani apa yang sudah aku pilih. Kurangnya rasa syukur, membuat aku nggak menikmati apa yang sudah aku capai. Bingung saja, kok bisa?